Minggu, 16 Agustus 2020

Cara Mengetahui Kondisi Hati dan Mengobatinya

 

Manusia terkadang tidak tahu apakah hatinya sedang sakit atau tidak. Lantas apa yang harus dilakukan terlebih dahulu untuk mengetahui posisi hatinya? Layaknya seseorang yang tidak tau sedang sakit atau tidak dirinya secara fisik, maka ia akan pergi ke dokter. Dokter tersebut akan mengetes dan memeriksa kondisi fisiknya. Dokter yang spesialis akan mengobati seseorang sesuai dengan kondisi kebutuhannya. Begitu pula seseorang yang tidak tahu penyakit yang ada dalam hatinya, oleh karena itu dia harus bertemu dengan gurunya. Dalam sebuah ungkapan dikatakan, lau laa murobbi maa’araftu Robbi artinya jika bukan karena murobbi aku tidak akan kenal akan Tuhanku.

Seseorang yang sering melakukan sesuatu, maka akan menganggap sesuatu itu hal yang biasa. Padahal bisa jadi apa yang dilakukannya merupakan sesuatu hal yang melenceng. Namun untuk orang tertentu seperti gurunya mengerti bahwa apa yang dilakukannya mulai melenceng. Maka salah satu cara untuk mengetahui kondisi hati adalah dengan berkonsultasi.

  Kita dapat mencontoh kisah Amirul Mukminin, ialah Umar Bin Khattab. Umar bin khattab datang kepada Salman Al-Farizi, ia bertanya “ Salman tolong jelaskan padaku apa aib dan kekurangan pada diriku?” salman mengatakan tidak ada. Umar bin Khatab bertanya lagi “Apa yang pernah kau dengar dari masyarakat tentang diriku?, lalu Salman pun menjelaskannya. Satu hal yang dapat kita ambil bahwa tanda-tanda orang yang ingin diperbaiki hatinya adalah ia ingin orang lain menasehatinya.

 Obat yang efektif untuk hati ada berbagai cara yang bisa di sesuaikan dengan jenis penyakitnya. Sifat sombong maka obatnya Tawadhu, seperti kisah Abu Dzar dan Bilal, suatu ketika Abu Dzar mengatakan kepada Bilal “ Wahai seseorang yang kulitnya hitam”. Rasulullah SAW pun bersabda, “Engkau wahai abu Dzar, dihati kamu masih ada karakter Jahiliyah”. Maka abu Dzarpu  langsung menempelkan wajahnya ke tanah, ia pun sadar akan kesalahannya. Begitupun ketika kita mengetahui ada sifat sombong dalam diri kita, maka kita harus tawadhu: menyapa orang, merapikan sandal di Masjid, dll.

Sifat kikir maka obatnya banyak berinfak tanpa diketahui siapapun. Keras hatinya maka harus dicari bagaimana hatinya agar semakin lunak. Jika hatinya tidak ingat tentang akhirat maka ia harus perbanyak dzikir. Kalau hatinya cinta dunia maka dirubah menjadi cinta akhirat. Masing-masing orang berbeda cara mengobatinya.

Sombong itu milik Allah, maka dihadapan orang yang sombong kita tidak boleh tawadhu atau merendah. Hal itulah yang terjadi  didapati dari para sahabat, mereka tidak pernah tunduk dan merendahkan diri di hadapan orang-orang musyrik. Mereka punya izzah, punya harga diri tidak bisa direndahkan.

Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan orang lain. Sedang perihal masalah-masalah amal khoiri, kalau tidak diposting maka masyarakat tidak akan mengetahui. Bukan untuk riya, melainkan agar masyarakat mengetahui ada hal-hal yang memang harus dikerjakan bersama-sama, semisal ada bencana kemudian ada sebagian orang yang bergerak untuk membantu. Hal tersebut dilakukan semata-mata niatnya hanya untuk memberikan semangat dan contoh kepada orang disekitarnya untuk melakukan amal kebaikan. Jadi, ada beberapa hal yang memang sudah semestinya ditampakkan dan ada pula yang tidak perlu ditampakkan.


Sumber :

https://youtu.be/_A9JbTOuj60

https://youtu.be/VxQXIuWgPmc