Manusia terkadang tidak tahu apakah hatinya sedang sakit
atau tidak. Lantas apa yang harus dilakukan terlebih dahulu untuk mengetahui
posisi hatinya? Layaknya seseorang yang tidak tau sedang sakit atau tidak
dirinya secara fisik, maka ia akan pergi ke dokter. Dokter tersebut akan mengetes
dan memeriksa kondisi fisiknya. Dokter yang spesialis akan mengobati seseorang
sesuai dengan kondisi kebutuhannya. Begitu pula seseorang yang tidak tahu
penyakit yang ada dalam hatinya, oleh karena itu dia harus bertemu dengan
gurunya. Dalam sebuah ungkapan dikatakan, lau
laa murobbi maa’araftu Robbi artinya jika bukan karena murobbi aku tidak
akan kenal akan Tuhanku.
Seseorang yang sering melakukan sesuatu, maka akan
menganggap sesuatu itu hal yang biasa. Padahal bisa jadi apa yang dilakukannya
merupakan sesuatu hal yang melenceng. Namun untuk orang tertentu seperti
gurunya mengerti bahwa apa yang dilakukannya mulai melenceng. Maka salah satu
cara untuk mengetahui kondisi hati adalah dengan berkonsultasi.
Kita dapat mencontoh kisah Amirul Mukminin,
ialah Umar Bin Khattab. Umar bin khattab datang kepada Salman Al-Farizi, ia bertanya
“ Salman tolong jelaskan padaku apa aib dan kekurangan pada diriku?” salman
mengatakan tidak ada. Umar bin Khatab bertanya lagi “Apa yang pernah kau dengar
dari masyarakat tentang diriku?, lalu Salman pun menjelaskannya. Satu hal yang
dapat kita ambil bahwa tanda-tanda orang yang ingin diperbaiki hatinya adalah
ia ingin orang lain menasehatinya.
Obat yang efektif
untuk hati ada berbagai cara yang bisa di sesuaikan dengan jenis penyakitnya. Sifat
sombong maka obatnya Tawadhu, seperti kisah Abu Dzar dan Bilal, suatu ketika
Abu Dzar mengatakan kepada Bilal “ Wahai
seseorang yang kulitnya hitam”. Rasulullah SAW pun bersabda, “Engkau wahai abu Dzar, dihati kamu masih ada
karakter Jahiliyah”. Maka abu Dzarpu
langsung menempelkan wajahnya ke tanah, ia pun sadar akan kesalahannya. Begitupun
ketika kita mengetahui ada sifat sombong dalam diri kita, maka kita harus tawadhu:
menyapa orang, merapikan sandal di Masjid, dll.
Sifat kikir maka obatnya banyak berinfak tanpa diketahui
siapapun. Keras hatinya maka harus dicari bagaimana hatinya agar semakin lunak.
Jika hatinya tidak ingat tentang akhirat maka ia harus perbanyak dzikir. Kalau
hatinya cinta dunia maka dirubah menjadi cinta akhirat. Masing-masing orang
berbeda cara mengobatinya.
Sombong itu milik Allah, maka dihadapan orang yang
sombong kita tidak boleh tawadhu atau merendah. Hal itulah yang terjadi didapati dari para sahabat, mereka tidak
pernah tunduk dan merendahkan diri di hadapan orang-orang musyrik. Mereka punya
izzah, punya harga diri tidak bisa direndahkan.
Sombong itu adalah menolak kebenaran dan merendahkan
orang lain. Sedang perihal masalah-masalah amal khoiri, kalau tidak diposting
maka masyarakat tidak akan mengetahui. Bukan untuk riya, melainkan agar
masyarakat mengetahui ada hal-hal yang memang harus dikerjakan bersama-sama,
semisal ada bencana kemudian ada sebagian orang yang bergerak untuk membantu. Hal
tersebut dilakukan semata-mata niatnya hanya untuk memberikan semangat dan
contoh kepada orang disekitarnya untuk melakukan amal kebaikan. Jadi, ada beberapa hal yang memang sudah semestinya ditampakkan dan ada pula yang tidak perlu ditampakkan.
Sumber :
https://youtu.be/_A9JbTOuj60
https://youtu.be/VxQXIuWgPmc