Sabtu, 19 Agustus 2017

PKM UNJ 3

PKM UNJ 3



BEM UNJ kembali menyelenggarakan PKM UNJ 3 Jum’at (21/07/2017) di Kampung Aquarium, Jakarta Utara. Peserta PKM UNJ berkumpul dilokasi pada pukul 08.00 WIB. Setelah beberapa waktu, panitia memberikan arahan kepada peserta terkait apa yang harus dikerjakan dan beberapa arahan terkait pengabdian masyarakat yang akan dilakukan disana. Setelah pemberian arahan dari panita, peserta dibagi menjadi 7 kelompok besar dan menyebar kesegala penjuru kampung aquarium untuk mengetahui kondisi masyarakat disana serta apa yang dibutuhkan oleh masyarakat.

Selama berkeliling, banyak sekali pelajaran yang dapat diambil oleh peserta, salah satunya adalah tentang syukur. Banyak hal yang terjadi disana, namun masyarakat di kampung aquarium masih bisa memberikan senyumannya dan seringkali mengucapkan rasa syukur kepada Allah, atas nikmat yang masih Allah berikan. Banyak sekali pelajaran hidup yang didapatkan disana, bagaimana masyarakat disana tetap tegar ditengah-tengah ujian yang mereka hadapi.

Setelah semua kelompok mendapatkan data, maka data tersebut dilaporkan dan didiskusikan terkait kebutuhan masyarakat disana. Akhirnya kami memutuskan untuk melakukan pengajaran serta membangun taman bacaan anak-anak selama pengabdian masyarakat disana. Selama melakukan pengabdian masyarakat, dibentuklah kepanitiaan. Pengabdian masyarakat yang kami lakukan berlangsung selama 2 minggu.


Selama 2 minggu itu, tim pengajaran melakukan pengajaran kepada anak-anak yang ada di kampung aquarium. Anak-anak disana terlihat antusias dan menikmati pengajaran yang diberikan. Tim danus mulai mencari dana untuk pengabdian masyarakat tersebut. dan tim pembangunan mulai membangun taman bacaan untuk anak-anak. Di hari terakhir pengabdian masyarakat yang kami lakukan, kami menyelenggarakan sebuah acara yang dihadiri oleh pihak universitas, kakak-kakak dari BEM UNJ serta penampilan dari anak-anak disana sebagai penutup.


#PKMUNJ2017
#PemudaMasaKini
#PemimpinMasaDepan

Sabtu, 24 Juni 2017

PKM UNJ 2



PKM UNJ 2 Jilid 1
BEM UNJ kembali menyelenggarakan PKM UNJ 2 Jilid 1 Sabtu (17/6/2017) di gedung sertifikasi guru lantai 8. Acara PKM UNJ 2 jilid 2 ini dimulai pada pukul 08.30 WIB, dibuka dengan pembacaan tilawah Al-Qur’an oleh salah satu peserta.
Pada PKMU 2 jilid 1, diawali dengan presentasi salah satu kelompok mengenai kunjungan BEM BSJB, lebih tepatnya ke BEM STEI TAZKIA dan Kementrian pertanian yang membahas tentang isu pabrik semen. Setelah presentasi selesai, materi yang disampaikan selanjutnya adalah mengenai Manajemen Isu oleh pemateri Dr. Arya Sandhiyudha, Ph.D (pengamat politik internasional). Manajeman isu adalah sebuah manajemen opini yang bertujuan untuk penyadaran, pencerahan, dan penyikapan terhadap isu-isu yang ada.
Ada enam tipologi dalam manajemen isu, diantaranya; pekerja, yaitu orang yang fokus terhadap tugas dan fungsi; pemikir, yaitu orang yang mendalami konten isu, berfilosofi terhadap isu; lobies, yaitu orang yang memiliki tipikal hemat berbicara, namun banyak  melakukan lobi; engineer, yaitu orang yang berperan sebagai desainer organisasi, menyusun dan merancang isu; selebrity, yaitu orang yang memiliki tipikal sadar akan popularitas dan tipikal ini suka memposting isu yang belum keluar di media; opinion leader, yaitu orang yang memiliki agenda, tampil dengan ide, termasuk mengelola isu. Media memiliki peran penting dalam manajemen isu.
Oleh karena itu kita sebagai generasi muda tidak boleh anti media.  Setelah materi yang disampaikan selesai, acara selanjutnya adalah pemberian kenang-kenangan dari panitia PKM UNJ 2017. Pesertapun dipersilahkan untuk istirahat dan melaksanakan ibadah solat dzuhur.

Acara kembali dilanjutkan pada pukul 12.30 WIB, peserta dibagi menjadi 4 kelompok besar untuk berdiskusi terkait isu luar kampus, yang meliputi hak angket DPR, tarif dasar listrik, supremasi hukum kekerasan seksual, dan reklamasi. Setelah berdiskusi, peserta dipersilahkan untuk mementaskan theatrical drama mengenai isu yang diangkat sesuai dengan kelompoknya masing-masing. Peserta sangat antusias dalam melaksanakan theatrical tersebut, diselingi dengan adegan-adegan lucu yang dimainkan oleh para peserta. Setelah selesai, acara selanjutnya adalah pembacaan doa penutup dan peserta diperkenankan meninggalkan lokasi.

PKM UNJ 2 Jilid 2
PKM UNJ 2 Jilid 2 Minggu (18/6/2017) telah diselenggaran di Aula Daksinapati. Acara dimulai pada pukul 09.30 WIB dan dibuka dengan pembacaan tilawah oleh perwakilan peserta.
Kegiatan PKMU 2 jilid 2 ini berupa presentasi kelompok terkait hasil anjangsana ke BEM BSJB dan kementrian kementrian. Dari hasil seluruh presentasi kelompok dapat disimpulkan bahwa tidak semua sistem BEM yang ada di BEM BSJB sama, termasuk dalam hal pengkaderan maupun dalam bentuk kepemerintahannya. Dibeberapa universitas, ketua BEM disebut sebagai president mahasiswa, karena beranggapan bahwa president mahasiswa berarti president atau pemimpin dari semua mahasiswa yang ada, bukan hanya pemimpin dari anggota BEM. Namun, kesemua lembaga eksekutif yang ada sudah menggambarkan sebuah miniatur negara, yang memang sejatinya bahwa perguruan tinggi adalah sebuah miniatur dari negara ini.

Setelah semua kelompok selesai mempresentasikan hasil kunjungan dan diskusinya, acara selanjutnya adalah berdiskusi. Peserta kembali dibagi dalam empat kelompok besar. Masing-masing perwakilan kelompok memaparkan hasil dari kunjungannya dan angket terkait UPT . dan dilanjutkan dengan berdiskusi mengenai isu dalam kampus. Ada 4 isu dalam kampus yang diangkat, antara lain, isu mengenai MPA, UKT, Parkiran dan komersialisasi. Setelah diskusi selesai, dilanjutkan dengan penutupan dan pemberian beberapa informasi mengenai PKM UNJ 3.


#PKMUNJ2017
#PemudaMasaKini
#PemimpinMasaDepan
PKM UNJ 1



PKM UNJ 1 Jilid 1
BEM UNJ menyelenggarakan PKM UNJ 1 Jilid 1 Minggu  (4/6/2017) di Gedung Sertifikasi Guru Lantai 1. PKM UNJ 2017 ini disambut antusias oleh Mahasiswa Universitas Negeri Jakarta. Puluhan peserta telah memadati tempat acara sebelum acara dimulai. Rangkaian acara dimulai pada pukul 09.00. Sebelum acara dimulai, panitia mempersilahkan peserta yang belum solat dhuha untuk melaksanakan sholat dhuha terlebih dahulu.
Setelah selesai mengisi daftar hadir, peserta mulai memadati aula gedung sertifikasi guru lantai 1. Acara dibuka oleh MC dan dilanjutkan dengan tilawah Al-Qur’an, menyanyikan lagu Indonesia Raya serta totalitas perjuangan. Setelah selesai pembukaan, acara dilanjutkan dengan pembahasan tata tertib, sosialisasi kelompok serta penugasan, dan diskusi kelompok sampai dengan pukul 11.30. Selanjutnya peserta diperkenankan untuk beristirahat dan melaksanakan ibadah solat dzuhur.
Acara dimulai kembali pada pukul 13.00 WIB dengan pemateri Bambang Irawan ( koordinator pusat BEM SI 2015). Materi yang disampaikan mengenai Public Relation. Penyampaiannya yang santai dan menarik membuat peserta sangat antusias mendengarkan materi yang disampaikan. Beliau menyampaikan pengertian tentang public relation, tujuan dan hal-hal yang berkaitan dengan public relation. Tujuan dari public relation antara lain adalah untuk menumbuhkan citra positif organisasi, mendukung program organisasi dan mengembangkan fungsi sinergitas organisasi. Beliau juga menceritakan tentang pengalaman hidupnya, bagaimana public relation yang pernah beliau lakukan. Setelah materi selesai, acara selanjutnya adalah pemberian kenang-kenagan dari panitia PKM UNJ 2017 dan dilanjutkan dengan doa penutup.

PKM UNJ 1 Jilid 2
PKM UNJ 1 Jilid 2 Sabtu (10/6/2017) telah diselenggaran di Gedung Hasyim Ashari Lantai 3. Acara dimulai pada pukul 08.30 WIB dan dibuka dengan pembacaan tilawah,menyanyikan lagu Indonesia Raya, serta totalitas perjuangan. Materi yang disampaikan pada PKM UNJ 1 jilid 2 ini mengenai Rekayasa Sosial yang disampaikan oleh Muhammad Rusdi (Deputy President KSPI).
Muhammad Rusdi mengatakan bahwa perubahan sosial dalam masyarakat adalah akibat dari ketidaksesuaian unsur-unsur nilai dan norma sosial yang dianut selama ini. Tujuan dari adanya perubahan sosial adalah terciptanya tatanan sosial ekonomi, budaya dan politik yang lebih baik. Yang berkeadilan, beradab dan sejahtera. Sebagai seorang pemuda, kita memiliki peran penting dalam melakukan perubahan sosial tersebut. Setelah materi yang disampaikan oleh Muhammad Rusdi, acara senjutnya adalah pemberian kenang-kenangan dari panitia PKM UNJ 2017. Peserta pun dipersilahkan untuk istirahat dan solat dzuhur.
Acara kembali dilanjutkan dengan kumpul kelompok pada pukul 12.30 WIB. Setelah kumpul kelompok, materi selanjutnya adalah Urgensi Kontra Intelegent yang disampaikan oleh Moses Caesar Assa S.Pd, M.Sc. Kontra intelegent merupakan suatu upaya untuk mengendalikan lawan-lawannya dengan menghalangi atau memanipulasi informasi yang relevan. Tujuan dari kontra intelegent adalah untuk kepntingan nasional, sebagaimana yang tercantum dalam UUD 1945 alinea ke-4. Tahapan-tahapan dari kontra intelegent antara lain; emerging issue, interpretation, signals dan future. Setelah materi selesai, acara selanjutnya adalah pemberian kenang-kenangan dari panitia PKM UNJ 2017. Acara ditutup dengan penyampaian beberapa informasi dan doa penutup.

#PKMUNJ2017
#Pemuda MasaKini

#PemimpinMasaDepan

Jumat, 03 Juni 2016

PRESS REALESE-DISKUSI KELOMPOK 5

BIDIKMISI

Kamis, 26 Mei 2016, telah diadakan diskusi oleh kelompok 5. Berikut hasil diskusi kami :

Bidikmisi adalah bantuan biaya pendidikan yang hanya ditunjukkan untuk calon mahasiswa tidak mampu. Bidikmisi merupakan bantuan dari pemerintah untuk mahasiswa berprestasi yang kekurangan secara finansial. Penerima bidikmisi dibebaskan dari uang kuliah karena uang kuliah mereka ditanggung oleh negara. Selain dibebaskan dari uang kuliah, penerima beasiswa bidikmisi juga mendapatkan uang saku per bulannya. Terkadang uang saku yang diterima tidak sesuai dengan jadwal, namun hal tersebut bukanlah sebuah masalah besar. Kemudian dalam beasiswa bidikmisi juga ada beberapa agenda kebaikan, seperti KBM ( Kampung Bidikmisi) dan masih banyak lagi. Penerima beasiswa bidikmisi juga dapat ditarik apabila mahasiswa tersebut tidak memenuhi syarat lagi untuk menerima beasiswa bidikmisi. Apabila ada salah satu mahasiswa yang ditarik kembali beasiswa bidikmisinya, maka beasiswa bidikmisi tersebut di berikan kepada penerima beasiswa bidikmisi pengganti. Sekian Press Release Diskusi kelompok 5.

Kampusku Rumahku

         Hampir semua pelajar yang masih duduk di bangku sekolah pada dasarnya merasa bahwa sekolah mereka adalah rumah kedua bagi mereka, karena hampir setengah hari yang mereka miliki dihabiskan di sekolah. Begitupun dengan seorang mahasiswa, apalagi seorang aktivis kampus yang bahkan diwaktu liburpun mereka tetap mendatangi rumah kedua ini. Sama seperti peran guru disekolah sebagai orangtua kedua bagi para siswa, peran tersebut juga dipegang oleh dosen-dosen dikampus. Oleh karena itu sudah seharusnya seorang mahasiswa mengetahui betul seluk beluk rumah kedua mereka ini, terutama isu-isu yang ada di dalamnya. Hal terdekat yang harus mereka tau adalah isu-isu kampus di prodi masing-masing.
Isu-isu yang beredar dikalangan mahasiswa program studi pendidikan matematika sendiri kurang lebih sama seperti isu-isu yang beredar dikampus. Hal tersebut dikemukakan oleh kepala departemen Advokasi dan Keolahragaan BEM MATEMTIKA 2016-2017, Sigit Galih Nugroho ( pendidikan matematika 2014). Dalam wawancara beliau mengemukakan bahwa isu-isu yang ada di prodi pendidikan matematika sejauh ini belum ada masalah berat, masalah yang ada masih sama seperti masalah yang menimpa UNJ, yaitu seperti masalah kenaikan UKT pada golongan 3-8.
Selain itu, isu-isu yang beredar di kalangan mahasiswa program studi pendidikan matematika adalah masalah parkiran UNJ yang terkesan kumuh. Kehilangan helm di parkiran UNJ yang menimpa beberapa mahasiswa, padahal tidak lebih dari satu hari mereka memarkirkan kendaraan mereka. Diharapkan isu-isu yang beredar di kalangan mahasiswa tersebut segera diselesaikan, agar tidak ada lagi masalah-masalah yang menimpa mahasiswa dan seluruh civitas akademika di kampus tercinta.

Jumat, 06 Mei 2016

PAM1 UNJ 2016

KEADVOKASIAN KAMPUS
Narasumber : Bapak Nasrulloh Nasution, S.H., M.Kn

            Berbicara mengenai keadvokasian maka kita akan berbicara mengenai fenomena ketidakadilan dan pelanggaran HAM. Fenomena ketidakadilan dan pelanggaran HAM ini sering kali kita saksikan di negeri ini. Hukum yang berlaku terkesan tajam kebawah. Maksudnya adalah hukum sangat mudah menjerat rakyat kecil dan sangat sulit menjerat orang-orang yang memiliki kedudukan di negeri ini. Seperti contoh pada kasus yang menimpa nenek Minah yang mencuri 3 buah kakao, nenek Minah divonis selama 1 bulan 15 hari hanya untuk 3 buah kakao. Bandingkan dengan orang-orang yang melakukan tindak pidana korupsi di negeri ini.
            Sejatinya setiap manusia di dunia ini berhak mendapatkan keadilan, karena manusia memilik HAM ( Hak Asasi Manusia ). HAM adalah hak-hak dasar yang dimiliki oleh setiap manusia bahkan ketika manusia itu masih berada dalam kandungan. HAM memiliki sifat universal, alamiah, mengandung norma yang penting walaupun tidak seluruhnya bersifat mutlak dan hak-hak tersebut mengimplikasikan kewajiban. Ketika seseorang memiliki hak maka dengan adanya hak tersebut orang itu juga memiliki kewajiban untuk memberikan hak-hak orang lain.
            Ada sebuah kalimat yang berbunyi “Hukum selalu tertinggal dari ilmu pengetahuan lainnya”. Maksud dari kalimat tersebut adalah sebelum terciptanya sebuah hukum maka ada peristiwa yang terjadi sebelumnya. Penegakkan hukum merupakan salah satu bentuk dari tindakan pengadvokasian. Advokasi berarti pembelaan. Advokasi itu sendiri memiliki tujuan untuk membela hak-hak manusia, memajukan kesejahteraan bersama, merubah suatu kebijakan yang di anggap kurang tepat, dan menciptakan suatu kebijakan baru untuk kesejahteraan bersama.
            Advokasi tidaklah sama dengan revolusi. Advokasi merupakan aksi strategis, sistematis, dan kontinue yang dilakukan perseorangan ataupun kelompok untuk melakukan perubahan kebijakan publik yang menyimpang dengan tujuan membela kaum lemah dan korban ketidakadilan. Sedangkan revolusi merupakan sebuah aksi spontan yang dilakukan oleh sekelompok orang untuk melakukan perubahan pada negeri ini ketika adanya penyimpangan-penyimpangan yang terjadi ataupun hal-hal yang dirasa kurang tepat.
            Advokasi ada tiga macam. Pertama advokasi litigas, advokasi litigasi berupa pendampingan, dan pembelaan hingga menyelasikannya sampai proses peradilan. Contoh advokasi litigasi adalah pengacara. Kedua adalah advokasi non litigasi, advokasi ini berupa pendidikan dan pelatihan, penyuluhan, kampanye, dan lain-lain. Advokasi yang dilakukan di kampus-kampus adalah advokasi non litigasi. Dan yang ketiga adalah advokasi ekstra litigasi, yaitu berupa iuditial review kebijakan publik.
            Advokasi sendiri ada karena adanya ketidakadilan, abuse of power atau kekuasaan yang melebihi batasnya, serta karena adanya orang-orang yang mampu tapi tidak mau dan orang orang yang tidak mampu tapi mau.
            Advokasi yang baik adalah advokasi yang berorientasi pada kepentingan publik, advokasi edukasi, tidak ‘balming the victims’, tidak menjadi monopoli kaum elit tapi juga organisasi masyarakat di level akar rumput (grass root), serta merupakan sarana untuk memperjuangkan perubahan kebijakan dan keadilan sosial.

TEKNIK  INVESTIGASI DAN NEGOSIASI
Narasumber : Bapak Harry Kurniawan, S.H., M.H

            Dalam dunia advokasi kita mengenal yang namanya innvestigasi. Investigasi adalah sebuah tindakan yang dilakukan untuk mengungkap suatu fakta berupa penyidikan dan penyelidikan dengan cara mencatat, merekam, dan meninjau untuk tujuan mendapatkan fakta dan memperoleh jawaban. Penyelidikan dan penyidikan memiliki pengertian yang berbeda. Penyelidikan berarti mengumpulkan fakta-fakta untuk mengungkap pelaku suatu kejadian, sedangkan penyidikan berarti mencari informasi mengenai dasar dan tujuan dari pelaku suatu kejadian. Jadi penyelidikan dilakukan sebelum pelaku ditemukan dan penyidikan dilakukan setelah sudah ditemukannya pelaku.
            Selain investigasi, kita juga mengenal yang namanya lobbying dan negosiasi. Lobbying adalah suatu cara mempengaruhi seseorang untuk melakukan suatu tidakan atau keputusan. Negosiasi adalah suatu tindakan untuk mencapai kesepakatan melalui diskusi formal. Lobbying dan Negosiasi merupakan bentuk dari advokasi non litigasi.
Walaupun lobbying dan negosiasi sama-sama merupakan bentuk advokasi non litigasi, namun keduanya memiliki perbedaan. Lobbying bersifat informal, tidak terikat waktu dan tempat, serta dilakukan secara terus menerus dalam jangka panjang. Sedangkan negosiasi bersifat formal serta terikat waktu dan tempat.
Lobby terbagi menjadi dua macam. Pertama adalah lobby langsung, yaitu dengan pertemuan pribadi, pernyataan singkat, percakapan lewat telephon, dan lain sebagainya. Kedua adalah lobby tidak langsung, yaitu melalui media massa.
            Investigasi dan negosiasi memiliki teknik-teknik agar dapat berjalan dengan baik. Ketika suatu peristiwa terjadi maka akan dicari fakta-fakta dilapangan dan bukti-bukti yang menunjukkan bahwa peristiwa tersebut benar-benar terjadi. Setelah fakta-fakta dan bukti-bukti telah terkumpul, maka langkah selanjutnya adalah dengan melakukan investigasi dilapangan. Kemudian setelah investigasi telah selesai  maka langkah selanjutnya adalah dengan melakukan lobby dan negosiasi dengan pihak-pihak yang memiliki wewenang atas kebijakan tersebut.
            Ada tiga organ fungsi dalam melakukan negosiasi. Pertama adalah unit pendukung, unit pendukung memiliki fungsi untuk mengumpulkan bukti, mmpersiapkan dana serta logistik yang dibutuhkan. Kedua adalah kerja basis, dalam proses negosiasi kita membutuhkan kerja tim. Kemudian yang ketiga adalah garis depan, yaitu perwakilan yang berhadapan langsung dengan orang yang ingin diajak bernegosiasi.
            Sebelum melakukan negosiasi maka ada beberapa tahapan yang harus dipersiapkan. Pertama adalah persiapan, persiapan yang harus dilakukan adalah memiliki operator, pembagian tugas, data yang akan digunakan dan perlengkapan pendukung. Kedua adalah menyusun formula strategis, formula yang baik adalah yang sama-sama menang. Ketiga adalah analisis SWOT, yaitu strength (kekuatan), weaknesses (kelemahan), opportunities (peluang), threats (hambatan). Terakhir adalah melakukan perubahan.

Senin, 14 Desember 2015

Filsafat Ilmu dalam Perspektif

FUNGSI BAHASA, MATEMATIKA, DAN LOGIKA UNTUK KETAHANAN INDONESIA DALAM ABAD 20 DI JALAN RAYA BANGSA-BANGSA

Di abad modern ini, Indonesia menghadapi masa yang sangat berat, karena tanah air kita letaknya dijalan raya bangsa-bangsa. Lokasi ini, di samping soal strategi juga mempunyai hubungan mutlak dengan kekayaan alam.
Kebudayaan negara Barat saat ini membanjiri bangsa Indonesia yang sudah sekian lama berkembang. Isi kebudayaan tersebut adalah organisasi so­sial, politik, ekonomi, pendidikan ilmu pengetahuan teknologi dan lain-lain soal lagi. Budaya yang membanjiri membawa pengaruh banjir tersebut merupakan suatu problema sosial yang menyeluruh, dari lapisan masyarakat paling atas sampai lapisan yang paling bawah. Dari soal-soal yang sangat perifir, sampai soal-soal yang sa­ngat sentral.
Adanya banjir budaya tersebut tidak hanya merupakan suatu soal akademis saja melainkan akan menginventarisir banjir budaya negerti kita, supaya bangsa Indonesia dapat menghadapi banjir budaya tersebut tanpa kehilangan identitas nasionalnya, yang mana dapat digunakan sebagai benteng ketahanan dari dunia luar.

A.    Fungsi Bahasa
Di bumi ini semua manusia mempunyai bahasa. Pemilikan bahasa konseptual ini membedakan manusia dari lain-lain isi alam semesta. Da­lam rangka kehidupan manusia maka fungsi bahasa yang paling dasar ada­lah menjelmakan pemikiran konseptual ke dalam dunia kehidupan. Kemudian penjelmaan tersebut menjadi landasan untuk suatu perbuatan. Perbuatan ini menyebabkan terjadinya hasil, dan akhirnya hasil ini dinilai. Mungkin pula penilaian hasil ini mempengaruhi kembali pemikiran konseptual dan menyebabkan pengaruh selanjutnya yang struktur dan dinamika-dinamika serupa. Dengan demikian maka terjadi rangkaian bersambung terus-menerus.
Bila pemikiran konseptual tidak dinyatakan dalam bahasa, maka orang lain tidak akan mengetahui pemikiran tersebut. Ada kemungkinan pula, pemikiran langsung dijelmakan dalam perbuatan, yang kemudian ditiru oleh orang lain.
Kemajuan manusia berdasarkan rangkaian pemikiran konseptual yang dinyatakan dalam bahasa kemudian pelaksanaan konsep-konsep yang telah dinyatakan dalam bahasa. Pelaksanaan menjadi suatu hasil dan hasil ini dinilai. Oleh karena itu antara pemikiran dan bahasa ada pengaruh timbal balik. Kalau pemikiran dinyatakan dalam bahasa maka dapat diteliti apakah antara pemikiran dan bahasa ada kongruensi.
Sebaliknya dalam rangka tujuan pengetahuan (knowledge) dan Ilmu Pengetahuan (science) maka perlu dilatih dalam discriptive dan pro-positional language yang memenuhi tata bahasa dan logika. Tergantung dari tingkat. kemampuan dalam menyusun descriptive dan propositional language, dapat dinilai. kemampuan pemikiran dalam lapangan penge­tahuan, ilmu pengetahuan.
Di samping soal yang umum, maka untuk Indonesia yang baru merdeka beberapa puluh tahun, dan menghadapi banjirnya kebudayaan Barat ini, ada tugas lain. Kebudayaan Barat sudah berkembang semenjak ± 1500 tahun dan sekarang pengetahuan dan ilmu pengetahuan sedang berkembang dengan pesatnya. Perkembangan selama 1500 tahun tadi disertai perkembangan bahasa yang mampu untuk menyatakan pemikiran yang melandasinya. Kita mengetahui, bahwa perkembangan tersebut menciptakan bahasa da­lam tiap segi pengetahuan yang berbeda dengan segi lain. Dan tiap segi mempunyai perkataan baru.
Oleh karena kita menghadapi banjirnya ilmu pengetahuan dan penge­tahuan tersebut, maka mau tidak mau kita harus mempelajari soal-soal tersebut. Tiap ilmu pengetahuan menciptakan jargon tersendiri. Semua jargon pengetahuan dan semua simbul-simbul dari semua ilmu penge­tahuan harus kita kuasai pula. Tanpa menguasai jargon dan simbul-sim­bul tersebut tidak mungkin kita dapat menguasai pengetahuan tersebuti.
Dalam keadaan demikian sebenarnya kalau ditinjau secara logis, maka lebih cepat dan bermanfaat untuk Indonesia bila pelajaran bahasa asing diperdalam dan diperluas. Pelajaran bahasa Inggris diperdalam sebab ilmu pengetahuan memang menuntut bahasa descriptive dan propositional yang eksak. Diperluas, oleh karena banjir kebudayaan Barat melanda semua lapisan masyarakat. Sebaliknya, soal yang logis dan riil ini tidak sesuai dengan politik yang Indonesia sentris, dan mengabaikan logika dan realitas. Logika diabaikan oleh karena umum menganggap bahwa logika hanya menguasai lapangan falsafah dan teori ilmu pengetahuan. Tetapi kalau tiap keputusan mem­punyai konsekuensi dalam masyarakat, maka konsekuensi adalah perkata­an lain dari logika. Sebab dalam logika selalu dibahas soal yang implisit. menjadi eksplisit dan proses analisa dari implisit menjadi eksplisit adalah analisa menuju konsekuensi.

B.     Fungsi Matematika
Hampir dapat dikatakan bahwa fungsi matematika sama luasnya dengan fungsi bahasa yang berhubungan dengan pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Dan sebaliknya bahasa yang mempunyai hubungan dengan puisi, prosa dan retorika dapat berjalan tanpa matematika.
Langkah perubahan kualitatif menjadi kuantitatif adalah langkah yang sangat fundamental untuk pengetahuan yang jelas, tepat dan teliti dan langkah demikian biasanya ditempuh dalam perkembangan semua ilmu pengetahuan, baik yang eksak maupun sosial. Pengetahuan ini semuanya dapat dipergunakan dalam rangka iriga desa, atau untuk penggerakan suatu mesin pompa atau listrik.    
Jikalau penyusunan bahasa yang descriptive, prepositional dan mate­matika dapat diberikan pada semua lapisan pendidikan dari SD sampai perguruan tinggi, maka seluruh pendidikan itu telah diusahakan "clear and acurate thinking". Dan sepanjang kombinasi tersebut telah diletakkan dasar-dasar untuk logika. Sebab sebenarnya dua dasar, dan kom­binasi itu memang hanya dapat disusun atas dasar pemikiran yang logis, tetapi logika yang implisit. Sebenarnya soal yang implisit adalah sama de­ngan soal yang diselip-selipkan, tidak kelihatan. Oleh karena pemikiran ini menguasai perbuatan manusia, maka supaya perbuatan manusia menjadi baik dan berhasil, maka penyusunan pemikiran ini adalah primer dan fun­damental.
Akhirnya kita semua mengetahui, bahwa masyarakat seluruhnya merupakan penjelmaan dari alam pemikiran dalam dunia yang wajar, em­piris, baik empiris ini bersifat spiritual-organisatoris, maupun bcrsifat materialistis. Oleh karena banjirnya kebudayaan Barat memiliki sifat-sifat jelas, tepat, teratur maka penjelmaan pemikiran mereka sangat berhasil. Dan kalau kita ridak mampu menghadapi banjir tersebut, maka kita akan tenggelam hanyut. Di sinilah letaknya fungsi ketahanan dari bahasa, matematika dan logika untuk Indonesia dalam abad ke-20 dijalan raya bangsa-bangsa ini.

HUBUNGAN ETIKA DENGAN ILMU

Tulisan ini menyajikan hubungan antar etika dan ilmu, dimana etika lengket dengan ilmu. Sesungguhnya bebas nilai atau tidaknya ilmu merupakan masalah rumit, yang tak mungkin dijawab dengan sekedar ya atau tidak. Mereka yang berpaham ilmu itu bebas nilai menggunakan pertimbangan yang didasarkan atas nilai diri yang diwakili oleh ilmu bersangkutan.
Bebas disitu berarti tak terikat secara mutlak. Padahal bebas dapat mengandung dua jenis makna. Pertama, kemungkinan untuk memilih; keduanya, kemampuan atau hak untuk menentukan subyeknya sendiri. Disitu harus ada penentuan dari dalam bukan dari luar.
Dengan penggulatan masalah di atas akhirnya dapat disimpulkan bahwa dua paham yang berbeda itu tak perlu dilihat sebagai suatu pertentangan

Fase empiris rasional
Di zaman Yunani dulu, Aristoteles mengatakan bahw ilmu itu tak mengabdi kepada pihak lain. Ilmu digulati oleh manusia demi ilmu itu sendiri. Sebagai latar belakangnya dikenal ucapan:Primum vivere, deinde philosophari yang artinya kira-kira: berjuang dulu untuk hidup, barulah boleh berfilsafah. Memang, kegiatan berilmu barulah dimungkinkan setelah yang bersangkutan tak banyak lagi disibukkan oleh perjuangan sehari-hari mencari nafkah.
Pendapat orang, kegiatan berilmu merupakan kegiatan mewah yang menyegarkan jiwa. Dengan demikian orang dapat memperoleh banyak pengertian tentang dirinya sendiri dan dunia di sekelilingnya. Menurut faham Yunani, bentuk tertinggi dari ilmu adalah kebijaksanaan. Bersama itu terlihat suatu sikap etika.
Di zaman Yunani itu etika dan politik saling berjalan erat. Kebijaksanaan politik mengajarkan bagaimana manusia harus mengarahkan negara. Sebaliknya ilmu tak dapat mengubah apa-apa, baik yang ada maupun yang akan datang. Pada masa itu, ilmu adalah sekedar apa yang dicapai; ilmu tak dirasakan sebagai suatu tantangan.
Tugas suatu generasi terbatas pada mencapai ilmu tersebut, untuk kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya. Belum ada tuntutan supaya sebelum ilmu diteruskan harus terlebih dulu dikembangkan. Baru sejak abad ke-17 ilmu giat dikembangkan di Eropa; orang juga mencari apa tujuan sebenarnya dari ilmu. Dengan itu fase yang sifatnya empiris rasional mulai bergeser ke fase eksperimental rasional. Sifat progresif ini menunjukkan bahwa ilmu bukan sekedar tujuan bagi dirinya sendiri melainkan suatu sarana untuk mencapai sesuatu.
Faham pragmatis
Jika sekarang ditanyakan kepada kita: apakah sebenarnya tujuan dari ilmu itu; jawaban dapat beraneka. Misalnya, untuk kemajuan, perkembangan ekonomi dan teknik, kemewahan hidup, kekayaan, kebahagiaan manusia. Mungkin ada yang mau menambahkan yang lebih mulia lagi seperti: untuk menemukan harta-harta ciptaan Tuhan.
Demikian, tadi cara manusia merenungkan tujuan ilmu. Bukan ilmu sebagai sesuatu yang abstrak, melainkan yang kongkret kita hayati. Ilmu yang memunculkan diri berdampingan dengan gejala kerumitan spesialisasi, rutin kerja, krisis ekonomis, teknik perang modern, aneka gangguan rohani dan dehumanisasi.
Dalam menggerayangi hakekat ilmu, sewaktu kita mulai menyentuh nilainya yang dalam, di situ kita terdorong untuk bersikap hormat kepada ilmu. Hormat ini pertama-tama tak diajukan kepada ilmu murni tetapi ilmu sebagaimana telah diterapkan dalam kehidupan.
Sebenarnya nilai dari ilmu terletak pada penerapannya. Ilmu mengabdi masyarakat sehingga ia menjadi sarana kemajuan. Boleh saja orang mengatakan bahwa ilmu itu mengejar kebenaran dan kebenaran itu inti etika ilmu, tetapi jangan dilupakan bahwa kebenaran itu ditentukan oleh derajat penerapan praktis dari ilmu. Pandangan yang demikian itu termasuk faham pragmatis tentang kebenaran. Di situ kebenaran merupakan suatu ide yang berlandaskan efek-efeknya yang praktis.
Logos dan Ethos
Apa yang sebenarnya merupakan daya tarik dari ilmu bagi ilmuwan? Van Peursen sehubungan dengan ini menunjukkan pada sifat ilmu yang tak akan selesai. Dijelaskan bahwa ilmu itu beroperasi dalam ruang yang tak terbatas. Kegiatannya berisi aneka ketegangan dan gerak yang penuh dengan keresahan. Keresahan ilmu itu memang cocok dengan hasrat manusia yang tanpa henti ingin tahu segalanya.
Muncul pertanyaan ini: apakah keresahan itu sama dengan kebenaran? Apakah keresahan itu yang menciptakan kebenaran? Tulis Van Peursen: keresahan itu keinginan yang tak dapat dipenuhi atau jarak yang prinsipiil ke kebenaran.
Apakah hubungan antara keresahan ilmu sebagai daya tarik bagi hasrat ingin tahu manusia yang tanpa henti dan kebenaran? Apakah karena kebenaran itu lalu ilmu bukan tujuan bagi dirinya sendiri, sehingga perlu diperhatikan etika sebagai efek tambahan dari ilmu setelah diterapkan dalam masyarakat?
Untuk menjawabnya perlu diketahui hubungan antara logos dan ethos sebagai berikut. Martin Heidegger mengatakan bahwa jika kita sebutkan manusia itu memiliki logos, itu tak berarti bahwa manusia sekedar ditabiati oleh akal. Ditunjukkannya bahwa logos bertalian dengan kata kerja legein yang artinya macam-macam, dari berbicara sampai membaca; kemudian diluaskan menjadi memperhatikan, menyimak, mengumpulkan makna, penyimpan dalam batin, berhenti untuk menyadari.
Dalam arti yang disebut terakhir itu, logos bertemu dengan ethos dan ethos ini dapat berarti penghentian, rumah, tempat tinggal, endapan sikap. Kemudian arti logos selanjutnya: sikap hidup yang menyadari sesuatu, sikap yang mengutamakan tutup mulut untuk berusaha mendengar, dengan mengorbankan berbicara lebih. Sehubungan ini Karl Jasper menulis bahwailmu adalah usaha manusia untuk mendengarkan jawaban-jawaban yang keluar dari dunia yang dihuninya. Di sinilah lengketnya etika dengan ilmu!

Kebenaran Keilmuan
Apa hubungan antara tak akan selesainya ilmu dan usaha mendengarkan jawaban? Batas dari ilmu sesungguhnya bukanlah suatu garis yang dicoretkan dengan tergesa-gesa di belakang gambaran tentang dunia yang terbatas ini, sebagai petunjuk tentang selesainya sesutu. Batasnya justru berupa suatu pespektif baru yang membukakan diri, sebagai petunjuk bahwa manusia siap untuk mendengarkan. Dengan demikian, tak akan ada pertentangan antara masalah dan rahasia, antara pengertian dan keajaiban, antara ilmu dan agama.
Kebenaran intelektual yang ada pada ilmu bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidang kehidupan. Kebenaran memang merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri. Dengan demikian maka pengabdian ilmu secara netral, tak berwarna, dapat melunturkan pengertian kebenaran, sehingga ilmu terpaksa menjadi steril. Uraian keilmuan tentang masyarakat sudah semestinya harus diperkuat oleh kesadaran terhadap berakarnya kebenaran.
Seperti disebutkan di depan, ilmu bukan tujuan tetapi sarana, karena hasrat akan kebenaran itu berhimpit dengan etika pelayanan bagi sesama manusia dan tanggung jawab secara agama. Sebenarnya ilmuwan dalam gerak kerjanya tak usah memperhitungkan adanya dua faktor: ilmu dan tanggung jawab, karena yang kedua itu sudah lengket dengan yang pertama.
Ilmu pun lengket dengan keberadaan manusia yang transenden dengan kata-kata lain, keresahan ilmu bertalian dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia. Di situ terdapat petunjuk mengenai kebenaran yang transenden. Dengan ini berarti pula bahwa titik henti dari kebenaran itu terdapat di luar jangkauan manusia!


DAFTAR PUSTAKA

·         Jujun S. Suriasumantri. 1987. Ilmu Dalam Perspektif. Jakarta. PT Gramedia
·         Munsyi, Alif Danya. 2005. Bahasa Menunjukkan Bangsa, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia
·         Alwasilah, A. Chaedar. 1993. Linguistik: Suatu Pengantar, Bandung: Angkasa