Senin, 14 Desember 2015

Filsafat Ilmu dalam Perspektif

FUNGSI BAHASA, MATEMATIKA, DAN LOGIKA UNTUK KETAHANAN INDONESIA DALAM ABAD 20 DI JALAN RAYA BANGSA-BANGSA

Di abad modern ini, Indonesia menghadapi masa yang sangat berat, karena tanah air kita letaknya dijalan raya bangsa-bangsa. Lokasi ini, di samping soal strategi juga mempunyai hubungan mutlak dengan kekayaan alam.
Kebudayaan negara Barat saat ini membanjiri bangsa Indonesia yang sudah sekian lama berkembang. Isi kebudayaan tersebut adalah organisasi so­sial, politik, ekonomi, pendidikan ilmu pengetahuan teknologi dan lain-lain soal lagi. Budaya yang membanjiri membawa pengaruh banjir tersebut merupakan suatu problema sosial yang menyeluruh, dari lapisan masyarakat paling atas sampai lapisan yang paling bawah. Dari soal-soal yang sangat perifir, sampai soal-soal yang sa­ngat sentral.
Adanya banjir budaya tersebut tidak hanya merupakan suatu soal akademis saja melainkan akan menginventarisir banjir budaya negerti kita, supaya bangsa Indonesia dapat menghadapi banjir budaya tersebut tanpa kehilangan identitas nasionalnya, yang mana dapat digunakan sebagai benteng ketahanan dari dunia luar.

A.    Fungsi Bahasa
Di bumi ini semua manusia mempunyai bahasa. Pemilikan bahasa konseptual ini membedakan manusia dari lain-lain isi alam semesta. Da­lam rangka kehidupan manusia maka fungsi bahasa yang paling dasar ada­lah menjelmakan pemikiran konseptual ke dalam dunia kehidupan. Kemudian penjelmaan tersebut menjadi landasan untuk suatu perbuatan. Perbuatan ini menyebabkan terjadinya hasil, dan akhirnya hasil ini dinilai. Mungkin pula penilaian hasil ini mempengaruhi kembali pemikiran konseptual dan menyebabkan pengaruh selanjutnya yang struktur dan dinamika-dinamika serupa. Dengan demikian maka terjadi rangkaian bersambung terus-menerus.
Bila pemikiran konseptual tidak dinyatakan dalam bahasa, maka orang lain tidak akan mengetahui pemikiran tersebut. Ada kemungkinan pula, pemikiran langsung dijelmakan dalam perbuatan, yang kemudian ditiru oleh orang lain.
Kemajuan manusia berdasarkan rangkaian pemikiran konseptual yang dinyatakan dalam bahasa kemudian pelaksanaan konsep-konsep yang telah dinyatakan dalam bahasa. Pelaksanaan menjadi suatu hasil dan hasil ini dinilai. Oleh karena itu antara pemikiran dan bahasa ada pengaruh timbal balik. Kalau pemikiran dinyatakan dalam bahasa maka dapat diteliti apakah antara pemikiran dan bahasa ada kongruensi.
Sebaliknya dalam rangka tujuan pengetahuan (knowledge) dan Ilmu Pengetahuan (science) maka perlu dilatih dalam discriptive dan pro-positional language yang memenuhi tata bahasa dan logika. Tergantung dari tingkat. kemampuan dalam menyusun descriptive dan propositional language, dapat dinilai. kemampuan pemikiran dalam lapangan penge­tahuan, ilmu pengetahuan.
Di samping soal yang umum, maka untuk Indonesia yang baru merdeka beberapa puluh tahun, dan menghadapi banjirnya kebudayaan Barat ini, ada tugas lain. Kebudayaan Barat sudah berkembang semenjak ± 1500 tahun dan sekarang pengetahuan dan ilmu pengetahuan sedang berkembang dengan pesatnya. Perkembangan selama 1500 tahun tadi disertai perkembangan bahasa yang mampu untuk menyatakan pemikiran yang melandasinya. Kita mengetahui, bahwa perkembangan tersebut menciptakan bahasa da­lam tiap segi pengetahuan yang berbeda dengan segi lain. Dan tiap segi mempunyai perkataan baru.
Oleh karena kita menghadapi banjirnya ilmu pengetahuan dan penge­tahuan tersebut, maka mau tidak mau kita harus mempelajari soal-soal tersebut. Tiap ilmu pengetahuan menciptakan jargon tersendiri. Semua jargon pengetahuan dan semua simbul-simbul dari semua ilmu penge­tahuan harus kita kuasai pula. Tanpa menguasai jargon dan simbul-sim­bul tersebut tidak mungkin kita dapat menguasai pengetahuan tersebuti.
Dalam keadaan demikian sebenarnya kalau ditinjau secara logis, maka lebih cepat dan bermanfaat untuk Indonesia bila pelajaran bahasa asing diperdalam dan diperluas. Pelajaran bahasa Inggris diperdalam sebab ilmu pengetahuan memang menuntut bahasa descriptive dan propositional yang eksak. Diperluas, oleh karena banjir kebudayaan Barat melanda semua lapisan masyarakat. Sebaliknya, soal yang logis dan riil ini tidak sesuai dengan politik yang Indonesia sentris, dan mengabaikan logika dan realitas. Logika diabaikan oleh karena umum menganggap bahwa logika hanya menguasai lapangan falsafah dan teori ilmu pengetahuan. Tetapi kalau tiap keputusan mem­punyai konsekuensi dalam masyarakat, maka konsekuensi adalah perkata­an lain dari logika. Sebab dalam logika selalu dibahas soal yang implisit. menjadi eksplisit dan proses analisa dari implisit menjadi eksplisit adalah analisa menuju konsekuensi.

B.     Fungsi Matematika
Hampir dapat dikatakan bahwa fungsi matematika sama luasnya dengan fungsi bahasa yang berhubungan dengan pengetahuan dan ilmu pengetahuan. Dan sebaliknya bahasa yang mempunyai hubungan dengan puisi, prosa dan retorika dapat berjalan tanpa matematika.
Langkah perubahan kualitatif menjadi kuantitatif adalah langkah yang sangat fundamental untuk pengetahuan yang jelas, tepat dan teliti dan langkah demikian biasanya ditempuh dalam perkembangan semua ilmu pengetahuan, baik yang eksak maupun sosial. Pengetahuan ini semuanya dapat dipergunakan dalam rangka iriga desa, atau untuk penggerakan suatu mesin pompa atau listrik.    
Jikalau penyusunan bahasa yang descriptive, prepositional dan mate­matika dapat diberikan pada semua lapisan pendidikan dari SD sampai perguruan tinggi, maka seluruh pendidikan itu telah diusahakan "clear and acurate thinking". Dan sepanjang kombinasi tersebut telah diletakkan dasar-dasar untuk logika. Sebab sebenarnya dua dasar, dan kom­binasi itu memang hanya dapat disusun atas dasar pemikiran yang logis, tetapi logika yang implisit. Sebenarnya soal yang implisit adalah sama de­ngan soal yang diselip-selipkan, tidak kelihatan. Oleh karena pemikiran ini menguasai perbuatan manusia, maka supaya perbuatan manusia menjadi baik dan berhasil, maka penyusunan pemikiran ini adalah primer dan fun­damental.
Akhirnya kita semua mengetahui, bahwa masyarakat seluruhnya merupakan penjelmaan dari alam pemikiran dalam dunia yang wajar, em­piris, baik empiris ini bersifat spiritual-organisatoris, maupun bcrsifat materialistis. Oleh karena banjirnya kebudayaan Barat memiliki sifat-sifat jelas, tepat, teratur maka penjelmaan pemikiran mereka sangat berhasil. Dan kalau kita ridak mampu menghadapi banjir tersebut, maka kita akan tenggelam hanyut. Di sinilah letaknya fungsi ketahanan dari bahasa, matematika dan logika untuk Indonesia dalam abad ke-20 dijalan raya bangsa-bangsa ini.

HUBUNGAN ETIKA DENGAN ILMU

Tulisan ini menyajikan hubungan antar etika dan ilmu, dimana etika lengket dengan ilmu. Sesungguhnya bebas nilai atau tidaknya ilmu merupakan masalah rumit, yang tak mungkin dijawab dengan sekedar ya atau tidak. Mereka yang berpaham ilmu itu bebas nilai menggunakan pertimbangan yang didasarkan atas nilai diri yang diwakili oleh ilmu bersangkutan.
Bebas disitu berarti tak terikat secara mutlak. Padahal bebas dapat mengandung dua jenis makna. Pertama, kemungkinan untuk memilih; keduanya, kemampuan atau hak untuk menentukan subyeknya sendiri. Disitu harus ada penentuan dari dalam bukan dari luar.
Dengan penggulatan masalah di atas akhirnya dapat disimpulkan bahwa dua paham yang berbeda itu tak perlu dilihat sebagai suatu pertentangan

Fase empiris rasional
Di zaman Yunani dulu, Aristoteles mengatakan bahw ilmu itu tak mengabdi kepada pihak lain. Ilmu digulati oleh manusia demi ilmu itu sendiri. Sebagai latar belakangnya dikenal ucapan:Primum vivere, deinde philosophari yang artinya kira-kira: berjuang dulu untuk hidup, barulah boleh berfilsafah. Memang, kegiatan berilmu barulah dimungkinkan setelah yang bersangkutan tak banyak lagi disibukkan oleh perjuangan sehari-hari mencari nafkah.
Pendapat orang, kegiatan berilmu merupakan kegiatan mewah yang menyegarkan jiwa. Dengan demikian orang dapat memperoleh banyak pengertian tentang dirinya sendiri dan dunia di sekelilingnya. Menurut faham Yunani, bentuk tertinggi dari ilmu adalah kebijaksanaan. Bersama itu terlihat suatu sikap etika.
Di zaman Yunani itu etika dan politik saling berjalan erat. Kebijaksanaan politik mengajarkan bagaimana manusia harus mengarahkan negara. Sebaliknya ilmu tak dapat mengubah apa-apa, baik yang ada maupun yang akan datang. Pada masa itu, ilmu adalah sekedar apa yang dicapai; ilmu tak dirasakan sebagai suatu tantangan.
Tugas suatu generasi terbatas pada mencapai ilmu tersebut, untuk kemudian diteruskan kepada generasi berikutnya. Belum ada tuntutan supaya sebelum ilmu diteruskan harus terlebih dulu dikembangkan. Baru sejak abad ke-17 ilmu giat dikembangkan di Eropa; orang juga mencari apa tujuan sebenarnya dari ilmu. Dengan itu fase yang sifatnya empiris rasional mulai bergeser ke fase eksperimental rasional. Sifat progresif ini menunjukkan bahwa ilmu bukan sekedar tujuan bagi dirinya sendiri melainkan suatu sarana untuk mencapai sesuatu.
Faham pragmatis
Jika sekarang ditanyakan kepada kita: apakah sebenarnya tujuan dari ilmu itu; jawaban dapat beraneka. Misalnya, untuk kemajuan, perkembangan ekonomi dan teknik, kemewahan hidup, kekayaan, kebahagiaan manusia. Mungkin ada yang mau menambahkan yang lebih mulia lagi seperti: untuk menemukan harta-harta ciptaan Tuhan.
Demikian, tadi cara manusia merenungkan tujuan ilmu. Bukan ilmu sebagai sesuatu yang abstrak, melainkan yang kongkret kita hayati. Ilmu yang memunculkan diri berdampingan dengan gejala kerumitan spesialisasi, rutin kerja, krisis ekonomis, teknik perang modern, aneka gangguan rohani dan dehumanisasi.
Dalam menggerayangi hakekat ilmu, sewaktu kita mulai menyentuh nilainya yang dalam, di situ kita terdorong untuk bersikap hormat kepada ilmu. Hormat ini pertama-tama tak diajukan kepada ilmu murni tetapi ilmu sebagaimana telah diterapkan dalam kehidupan.
Sebenarnya nilai dari ilmu terletak pada penerapannya. Ilmu mengabdi masyarakat sehingga ia menjadi sarana kemajuan. Boleh saja orang mengatakan bahwa ilmu itu mengejar kebenaran dan kebenaran itu inti etika ilmu, tetapi jangan dilupakan bahwa kebenaran itu ditentukan oleh derajat penerapan praktis dari ilmu. Pandangan yang demikian itu termasuk faham pragmatis tentang kebenaran. Di situ kebenaran merupakan suatu ide yang berlandaskan efek-efeknya yang praktis.
Logos dan Ethos
Apa yang sebenarnya merupakan daya tarik dari ilmu bagi ilmuwan? Van Peursen sehubungan dengan ini menunjukkan pada sifat ilmu yang tak akan selesai. Dijelaskan bahwa ilmu itu beroperasi dalam ruang yang tak terbatas. Kegiatannya berisi aneka ketegangan dan gerak yang penuh dengan keresahan. Keresahan ilmu itu memang cocok dengan hasrat manusia yang tanpa henti ingin tahu segalanya.
Muncul pertanyaan ini: apakah keresahan itu sama dengan kebenaran? Apakah keresahan itu yang menciptakan kebenaran? Tulis Van Peursen: keresahan itu keinginan yang tak dapat dipenuhi atau jarak yang prinsipiil ke kebenaran.
Apakah hubungan antara keresahan ilmu sebagai daya tarik bagi hasrat ingin tahu manusia yang tanpa henti dan kebenaran? Apakah karena kebenaran itu lalu ilmu bukan tujuan bagi dirinya sendiri, sehingga perlu diperhatikan etika sebagai efek tambahan dari ilmu setelah diterapkan dalam masyarakat?
Untuk menjawabnya perlu diketahui hubungan antara logos dan ethos sebagai berikut. Martin Heidegger mengatakan bahwa jika kita sebutkan manusia itu memiliki logos, itu tak berarti bahwa manusia sekedar ditabiati oleh akal. Ditunjukkannya bahwa logos bertalian dengan kata kerja legein yang artinya macam-macam, dari berbicara sampai membaca; kemudian diluaskan menjadi memperhatikan, menyimak, mengumpulkan makna, penyimpan dalam batin, berhenti untuk menyadari.
Dalam arti yang disebut terakhir itu, logos bertemu dengan ethos dan ethos ini dapat berarti penghentian, rumah, tempat tinggal, endapan sikap. Kemudian arti logos selanjutnya: sikap hidup yang menyadari sesuatu, sikap yang mengutamakan tutup mulut untuk berusaha mendengar, dengan mengorbankan berbicara lebih. Sehubungan ini Karl Jasper menulis bahwailmu adalah usaha manusia untuk mendengarkan jawaban-jawaban yang keluar dari dunia yang dihuninya. Di sinilah lengketnya etika dengan ilmu!

Kebenaran Keilmuan
Apa hubungan antara tak akan selesainya ilmu dan usaha mendengarkan jawaban? Batas dari ilmu sesungguhnya bukanlah suatu garis yang dicoretkan dengan tergesa-gesa di belakang gambaran tentang dunia yang terbatas ini, sebagai petunjuk tentang selesainya sesutu. Batasnya justru berupa suatu pespektif baru yang membukakan diri, sebagai petunjuk bahwa manusia siap untuk mendengarkan. Dengan demikian, tak akan ada pertentangan antara masalah dan rahasia, antara pengertian dan keajaiban, antara ilmu dan agama.
Kebenaran intelektual yang ada pada ilmu bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu dengan bidang-bidang kehidupan. Kebenaran memang merupakan ciri asli dari ilmu itu sendiri. Dengan demikian maka pengabdian ilmu secara netral, tak berwarna, dapat melunturkan pengertian kebenaran, sehingga ilmu terpaksa menjadi steril. Uraian keilmuan tentang masyarakat sudah semestinya harus diperkuat oleh kesadaran terhadap berakarnya kebenaran.
Seperti disebutkan di depan, ilmu bukan tujuan tetapi sarana, karena hasrat akan kebenaran itu berhimpit dengan etika pelayanan bagi sesama manusia dan tanggung jawab secara agama. Sebenarnya ilmuwan dalam gerak kerjanya tak usah memperhitungkan adanya dua faktor: ilmu dan tanggung jawab, karena yang kedua itu sudah lengket dengan yang pertama.
Ilmu pun lengket dengan keberadaan manusia yang transenden dengan kata-kata lain, keresahan ilmu bertalian dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia. Di situ terdapat petunjuk mengenai kebenaran yang transenden. Dengan ini berarti pula bahwa titik henti dari kebenaran itu terdapat di luar jangkauan manusia!


DAFTAR PUSTAKA

·         Jujun S. Suriasumantri. 1987. Ilmu Dalam Perspektif. Jakarta. PT Gramedia
·         Munsyi, Alif Danya. 2005. Bahasa Menunjukkan Bangsa, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia
·         Alwasilah, A. Chaedar. 1993. Linguistik: Suatu Pengantar, Bandung: Angkasa

Tidak ada komentar:

Posting Komentar