FUNGSI BAHASA, MATEMATIKA,
DAN LOGIKA UNTUK KETAHANAN INDONESIA DALAM ABAD 20 DI JALAN RAYA BANGSA-BANGSA
Di abad modern ini, Indonesia menghadapi masa yang
sangat berat, karena tanah air kita letaknya dijalan raya bangsa-bangsa. Lokasi
ini, di samping soal strategi juga mempunyai hubungan mutlak dengan kekayaan
alam.
Kebudayaan negara Barat saat ini membanjiri bangsa
Indonesia yang sudah sekian lama berkembang. Isi kebudayaan tersebut adalah
organisasi sosial, politik, ekonomi, pendidikan ilmu pengetahuan teknologi dan
lain-lain soal lagi. Budaya yang membanjiri membawa pengaruh banjir tersebut
merupakan suatu problema sosial yang menyeluruh, dari lapisan masyarakat paling
atas sampai lapisan yang paling bawah. Dari soal-soal yang sangat perifir, sampai
soal-soal yang sangat sentral.
Adanya banjir budaya tersebut tidak hanya merupakan
suatu soal akademis saja melainkan akan menginventarisir banjir budaya negerti
kita, supaya bangsa Indonesia dapat menghadapi banjir budaya tersebut tanpa
kehilangan identitas nasionalnya, yang mana dapat digunakan sebagai benteng
ketahanan dari dunia luar.
A. Fungsi Bahasa
Di bumi ini semua manusia mempunyai bahasa.
Pemilikan bahasa konseptual ini membedakan manusia dari lain-lain isi alam
semesta. Dalam rangka kehidupan manusia maka fungsi bahasa yang paling dasar
adalah menjelmakan pemikiran konseptual ke dalam dunia kehidupan. Kemudian
penjelmaan tersebut menjadi landasan untuk suatu perbuatan. Perbuatan ini
menyebabkan terjadinya hasil, dan akhirnya hasil ini dinilai. Mungkin pula
penilaian hasil ini mempengaruhi kembali pemikiran konseptual dan menyebabkan
pengaruh selanjutnya yang struktur dan dinamika-dinamika serupa. Dengan
demikian maka terjadi rangkaian bersambung terus-menerus.
Bila pemikiran konseptual tidak dinyatakan dalam
bahasa, maka orang lain tidak akan mengetahui pemikiran tersebut. Ada
kemungkinan pula, pemikiran langsung dijelmakan dalam perbuatan, yang kemudian
ditiru oleh orang lain.
Kemajuan manusia berdasarkan rangkaian pemikiran
konseptual yang dinyatakan dalam bahasa kemudian pelaksanaan konsep-konsep yang
telah dinyatakan dalam bahasa. Pelaksanaan menjadi suatu hasil dan hasil ini
dinilai. Oleh karena itu antara pemikiran dan bahasa ada pengaruh timbal balik.
Kalau pemikiran dinyatakan dalam bahasa maka dapat diteliti apakah antara
pemikiran dan bahasa ada kongruensi.
Sebaliknya dalam rangka tujuan pengetahuan (knowledge)
dan Ilmu Pengetahuan (science) maka perlu dilatih dalam discriptive dan
pro-positional language yang memenuhi tata bahasa dan logika. Tergantung dari
tingkat. kemampuan dalam menyusun descriptive dan propositional language, dapat
dinilai. kemampuan pemikiran dalam lapangan pengetahuan, ilmu pengetahuan.
Di samping soal yang umum, maka untuk Indonesia
yang baru merdeka beberapa puluh tahun, dan menghadapi banjirnya kebudayaan
Barat ini, ada tugas lain. Kebudayaan Barat sudah berkembang semenjak ± 1500
tahun dan sekarang pengetahuan dan ilmu pengetahuan sedang berkembang dengan
pesatnya. Perkembangan selama 1500 tahun tadi disertai perkembangan bahasa yang
mampu untuk menyatakan pemikiran yang melandasinya. Kita mengetahui, bahwa
perkembangan tersebut menciptakan bahasa dalam tiap segi pengetahuan yang
berbeda dengan segi lain. Dan tiap segi mempunyai perkataan baru.
Oleh karena kita menghadapi banjirnya ilmu
pengetahuan dan pengetahuan tersebut, maka mau tidak mau kita harus
mempelajari soal-soal tersebut. Tiap ilmu pengetahuan menciptakan jargon
tersendiri. Semua jargon pengetahuan dan semua simbul-simbul dari semua ilmu
pengetahuan harus kita kuasai pula. Tanpa menguasai jargon dan simbul-simbul
tersebut tidak mungkin kita dapat menguasai pengetahuan tersebuti.
Dalam keadaan demikian sebenarnya kalau ditinjau
secara logis, maka lebih cepat dan bermanfaat untuk Indonesia bila pelajaran
bahasa asing diperdalam dan diperluas. Pelajaran bahasa Inggris diperdalam
sebab ilmu pengetahuan memang menuntut bahasa descriptive dan propositional
yang eksak. Diperluas, oleh karena banjir kebudayaan Barat melanda semua
lapisan masyarakat. Sebaliknya, soal yang logis dan riil ini tidak sesuai
dengan politik yang Indonesia sentris, dan mengabaikan logika dan realitas.
Logika diabaikan oleh karena umum menganggap bahwa logika hanya menguasai
lapangan falsafah dan teori ilmu pengetahuan. Tetapi kalau tiap keputusan mempunyai
konsekuensi dalam masyarakat, maka konsekuensi adalah perkataan lain dari
logika. Sebab dalam logika selalu dibahas soal yang implisit. menjadi eksplisit
dan proses analisa dari implisit menjadi eksplisit adalah analisa menuju
konsekuensi.
B. Fungsi Matematika
Hampir dapat dikatakan bahwa fungsi matematika sama
luasnya dengan fungsi bahasa yang berhubungan dengan pengetahuan dan ilmu
pengetahuan. Dan sebaliknya bahasa yang mempunyai hubungan dengan puisi, prosa
dan retorika dapat berjalan tanpa matematika.
Langkah perubahan kualitatif menjadi kuantitatif
adalah langkah yang sangat fundamental untuk pengetahuan yang jelas, tepat dan
teliti dan langkah demikian biasanya ditempuh dalam perkembangan semua ilmu
pengetahuan, baik yang eksak maupun sosial. Pengetahuan ini semuanya dapat
dipergunakan dalam rangka iriga desa, atau untuk penggerakan suatu mesin pompa
atau listrik.
Jikalau penyusunan bahasa yang descriptive,
prepositional dan matematika dapat diberikan pada semua lapisan pendidikan
dari SD sampai perguruan tinggi, maka seluruh pendidikan itu telah diusahakan
"clear and acurate thinking". Dan sepanjang kombinasi tersebut
telah diletakkan dasar-dasar untuk logika. Sebab sebenarnya dua dasar, dan kombinasi
itu memang hanya dapat disusun atas dasar pemikiran yang logis, tetapi logika
yang implisit. Sebenarnya soal yang implisit adalah sama dengan soal yang
diselip-selipkan, tidak kelihatan. Oleh karena pemikiran ini menguasai
perbuatan manusia, maka supaya perbuatan manusia menjadi baik dan berhasil,
maka penyusunan pemikiran ini adalah primer dan fundamental.
Akhirnya kita semua mengetahui, bahwa masyarakat
seluruhnya merupakan penjelmaan dari alam pemikiran dalam dunia yang wajar, empiris,
baik empiris ini bersifat spiritual-organisatoris, maupun bcrsifat
materialistis. Oleh karena banjirnya kebudayaan Barat memiliki sifat-sifat
jelas, tepat, teratur maka penjelmaan pemikiran mereka sangat berhasil. Dan
kalau kita ridak mampu menghadapi banjir tersebut, maka kita akan tenggelam
hanyut. Di sinilah letaknya fungsi ketahanan dari bahasa, matematika dan logika
untuk Indonesia dalam abad ke-20 dijalan raya bangsa-bangsa ini.
HUBUNGAN ETIKA DENGAN ILMU
Tulisan
ini menyajikan hubungan antar etika dan ilmu, dimana etika lengket dengan ilmu.
Sesungguhnya bebas nilai atau tidaknya ilmu merupakan masalah rumit, yang tak
mungkin dijawab dengan sekedar ya atau tidak. Mereka yang berpaham ilmu itu
bebas nilai menggunakan pertimbangan yang didasarkan atas nilai diri yang diwakili
oleh ilmu bersangkutan.
Bebas
disitu berarti tak terikat secara mutlak. Padahal bebas dapat mengandung dua
jenis makna. Pertama, kemungkinan untuk memilih; keduanya, kemampuan atau hak
untuk menentukan subyeknya sendiri. Disitu harus ada penentuan dari dalam bukan
dari luar.
Dengan penggulatan masalah di atas
akhirnya dapat disimpulkan bahwa dua paham yang berbeda itu tak perlu dilihat
sebagai suatu pertentangan
Fase empiris rasional
Di zaman Yunani dulu, Aristoteles
mengatakan bahw ilmu itu tak mengabdi kepada pihak lain. Ilmu digulati oleh
manusia demi ilmu itu sendiri. Sebagai latar belakangnya dikenal ucapan:Primum
vivere, deinde philosophari yang
artinya kira-kira: berjuang dulu untuk hidup, barulah boleh berfilsafah.
Memang, kegiatan berilmu barulah dimungkinkan setelah yang bersangkutan tak
banyak lagi disibukkan oleh perjuangan sehari-hari mencari nafkah.
Pendapat
orang, kegiatan berilmu merupakan kegiatan mewah yang menyegarkan jiwa. Dengan
demikian orang dapat memperoleh banyak pengertian tentang dirinya sendiri dan
dunia di sekelilingnya. Menurut faham Yunani, bentuk tertinggi dari ilmu adalah
kebijaksanaan. Bersama itu terlihat suatu sikap etika.
Di
zaman Yunani itu etika dan politik saling berjalan erat. Kebijaksanaan politik
mengajarkan bagaimana manusia harus mengarahkan negara. Sebaliknya ilmu tak
dapat mengubah apa-apa, baik yang ada maupun yang akan datang. Pada masa itu,
ilmu adalah sekedar apa yang dicapai; ilmu tak dirasakan sebagai suatu
tantangan.
Tugas
suatu generasi terbatas pada mencapai ilmu tersebut, untuk kemudian diteruskan
kepada generasi berikutnya. Belum ada tuntutan supaya sebelum ilmu diteruskan
harus terlebih dulu dikembangkan. Baru sejak abad ke-17 ilmu giat dikembangkan
di Eropa; orang juga mencari apa tujuan sebenarnya dari ilmu. Dengan itu fase
yang sifatnya empiris rasional mulai bergeser ke fase eksperimental rasional.
Sifat progresif ini menunjukkan bahwa ilmu bukan sekedar tujuan bagi dirinya
sendiri melainkan suatu sarana untuk mencapai sesuatu.
Faham pragmatis
Jika
sekarang ditanyakan kepada kita: apakah sebenarnya tujuan dari ilmu itu;
jawaban dapat beraneka. Misalnya, untuk kemajuan, perkembangan ekonomi dan
teknik, kemewahan hidup, kekayaan, kebahagiaan manusia. Mungkin ada yang mau
menambahkan yang lebih mulia lagi seperti: untuk menemukan harta-harta ciptaan
Tuhan.
Demikian,
tadi cara manusia merenungkan tujuan ilmu. Bukan ilmu sebagai sesuatu yang
abstrak, melainkan yang kongkret kita hayati. Ilmu yang memunculkan diri
berdampingan dengan gejala kerumitan spesialisasi, rutin kerja, krisis
ekonomis, teknik perang modern, aneka gangguan rohani dan dehumanisasi.
Dalam
menggerayangi hakekat ilmu, sewaktu kita mulai menyentuh nilainya yang dalam,
di situ kita terdorong untuk bersikap hormat kepada ilmu. Hormat ini pertama-tama
tak diajukan kepada ilmu murni tetapi ilmu sebagaimana telah diterapkan dalam
kehidupan.
Sebenarnya
nilai dari ilmu terletak pada penerapannya. Ilmu mengabdi masyarakat sehingga
ia menjadi sarana kemajuan. Boleh saja orang mengatakan bahwa ilmu itu mengejar
kebenaran dan kebenaran itu inti etika ilmu, tetapi jangan dilupakan bahwa
kebenaran itu ditentukan oleh derajat penerapan praktis dari ilmu. Pandangan
yang demikian itu termasuk faham pragmatis tentang kebenaran. Di situ kebenaran
merupakan suatu ide yang berlandaskan efek-efeknya yang praktis.
Logos dan Ethos
Apa yang sebenarnya merupakan daya tarik
dari ilmu bagi ilmuwan? Van
Peursen sehubungan dengan
ini menunjukkan pada sifat ilmu yang tak
akan selesai. Dijelaskan bahwa ilmu itu beroperasi dalam ruang yang tak
terbatas. Kegiatannya berisi aneka ketegangan dan gerak yang penuh dengan
keresahan. Keresahan ilmu itu memang cocok dengan hasrat manusia yang tanpa
henti ingin tahu segalanya.
Muncul pertanyaan ini:
apakah keresahan itu sama dengan kebenaran? Apakah keresahan itu yang
menciptakan kebenaran? Tulis Van Peursen: keresahan itu keinginan yang tak
dapat dipenuhi atau jarak yang prinsipiil ke kebenaran.
Apakah
hubungan antara keresahan ilmu sebagai daya tarik bagi hasrat ingin tahu manusia
yang tanpa henti dan kebenaran? Apakah karena kebenaran itu lalu ilmu bukan
tujuan bagi dirinya sendiri, sehingga perlu diperhatikan etika sebagai efek
tambahan dari ilmu setelah diterapkan dalam masyarakat?
Untuk menjawabnya perlu diketahui hubungan
antara logos dan ethos sebagai berikut. Martin Heidegger
mengatakan bahwa jika kita sebutkan manusia itu memiliki logos, itu tak berarti
bahwa manusia sekedar ditabiati oleh akal. Ditunjukkannya bahwa logos bertalian
dengan kata kerja legein yang artinya macam-macam, dari
berbicara sampai membaca; kemudian diluaskan menjadi memperhatikan, menyimak,
mengumpulkan makna, penyimpan dalam batin, berhenti untuk menyadari.
Dalam arti yang disebut terakhir itu,
logos bertemu dengan ethos dan ethos ini dapat berarti penghentian, rumah,
tempat tinggal, endapan sikap. Kemudian arti logos selanjutnya: sikap hidup
yang menyadari sesuatu, sikap yang mengutamakan tutup mulut untuk berusaha
mendengar, dengan mengorbankan berbicara lebih. Sehubungan ini Karl Jasper menulis
bahwailmu adalah usaha manusia untuk mendengarkan jawaban-jawaban yang
keluar dari dunia yang dihuninya. Di sinilah lengketnya etika dengan ilmu!
Kebenaran Keilmuan
Apa
hubungan antara tak akan selesainya ilmu dan usaha mendengarkan jawaban? Batas
dari ilmu sesungguhnya bukanlah suatu garis yang dicoretkan dengan tergesa-gesa
di belakang gambaran tentang dunia yang terbatas ini, sebagai petunjuk tentang
selesainya sesutu. Batasnya justru berupa suatu pespektif baru yang membukakan
diri, sebagai petunjuk bahwa manusia siap untuk mendengarkan. Dengan demikian,
tak akan ada pertentangan antara masalah dan rahasia, antara pengertian dan
keajaiban, antara ilmu dan agama.
Kebenaran
intelektual yang ada pada ilmu bukanlah suatu efek dari keterlibatan ilmu
dengan bidang-bidang kehidupan. Kebenaran memang merupakan ciri asli dari ilmu
itu sendiri. Dengan demikian maka pengabdian ilmu secara netral, tak berwarna,
dapat melunturkan pengertian kebenaran, sehingga ilmu terpaksa menjadi steril.
Uraian keilmuan tentang masyarakat sudah semestinya harus diperkuat oleh
kesadaran terhadap berakarnya kebenaran.
Seperti
disebutkan di depan, ilmu bukan tujuan tetapi sarana, karena hasrat akan
kebenaran itu berhimpit dengan etika pelayanan bagi sesama manusia dan tanggung
jawab secara agama. Sebenarnya ilmuwan dalam gerak kerjanya tak usah
memperhitungkan adanya dua faktor: ilmu dan tanggung jawab, karena yang kedua
itu sudah lengket dengan yang pertama.
Ilmu
pun lengket dengan keberadaan manusia yang transenden dengan kata-kata lain,
keresahan ilmu bertalian dengan hasrat yang terdapat dalam diri manusia. Di
situ terdapat petunjuk mengenai kebenaran yang transenden. Dengan ini berarti
pula bahwa titik henti dari kebenaran itu terdapat di luar jangkauan manusia!
DAFTAR
PUSTAKA
·
Jujun S. Suriasumantri.
1987. Ilmu Dalam Perspektif.
Jakarta. PT Gramedia
·
Munsyi, Alif Danya. 2005. Bahasa
Menunjukkan Bangsa, Jakarta: Kepustakaan Populer Gramedia
·
Alwasilah, A. Chaedar. 1993. Linguistik:
Suatu Pengantar, Bandung: Angkasa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar